Nyesel Tapi Telat
Setelah menjalani hidup sehari-hari di rumah kurang lebih selama sebulan terakhir ini, banyak yang saya pikirkan. Kayaknya bukan hanya saya yang mengalami hal ini. Toh, kita terus-terusan diem di rumah, gak bersosialisasi (baca: ketemu manusia beneran), dan semua pekerjaan dikerjakan di rumah. Segalanya lebih mengandalkan delivery saat ini. Jadi lebih sering tenggelam sama pikiran sendiri.
Setelah keputusan untuk work from home diberlakukan, saya pulang ke rumah bawa beberapa hijab dan beberapa baju basic, dan meninggalkan sisanya di kosan. Sudah enam minggu sejak saya meninggalkan kosan, pasti disana udah berdebu banget. Dan, entah sampai kapan semua ini berakhir.
Sejak awal, saya selalu bermotivasi tinggi dalam apapun, saya terlalu ambisius, mengalami kelonjakan semangat dalam waktu tertentu aja. Jadi, saya bakal bener-bener rajin hari ini, dan ngerasa males dan exhausted besoknya. Saya punya dua hari day-off dan selalu dihabiskan di kosan sendirian. Entah itu beberes kek, nyuci, atau cuma rebahan, tidur sampai siang. Apa aja yang bisa dikerjain. Ada banyak tempat bagus di luar sana yang bisa saya kunjungi. Ada mall, museum, monumen nasional, tempat makan, tapi jujur saya baru sekali main ke luar di hari libur. Saya selalu bilang, "Minggu depan aja". Minggu depannya saya bilang lagi "Minggu depan aja," dan seterusnya.
Saya selalu berpikir saya harus bekerja keras sekarang, melupakan waktu untuk bersantai, agar kelak gak perlu memikirkan apapun karena sudah punya segalanya. Saya terlalu keras terhadap diri sendiri. Namun, akhirnya, yang ada malah nyesel karena selama ini saya tinggal di tengah-tengah peradaban tapi gak pernah menikmatinya. Kita gak pernah tau apa yang akan terjadi dalam kehidupan. Dan, kabar buruknya, kita cuma hidup sekali. Jadi jangan sia-siakan dan nikmati waktu tersebut untuk melakukan hal yang mau kita lakukan instead of hal yang kita harus kita lakukan.
Maka, di momen ini, nikmati segala sesuatunya, hal kecil yang ada di sekitar. Jangan seperti sebelumnya, we took it for granted and in the end we regret it.
Setelah keputusan untuk work from home diberlakukan, saya pulang ke rumah bawa beberapa hijab dan beberapa baju basic, dan meninggalkan sisanya di kosan. Sudah enam minggu sejak saya meninggalkan kosan, pasti disana udah berdebu banget. Dan, entah sampai kapan semua ini berakhir.
Sejak awal, saya selalu bermotivasi tinggi dalam apapun, saya terlalu ambisius, mengalami kelonjakan semangat dalam waktu tertentu aja. Jadi, saya bakal bener-bener rajin hari ini, dan ngerasa males dan exhausted besoknya. Saya punya dua hari day-off dan selalu dihabiskan di kosan sendirian. Entah itu beberes kek, nyuci, atau cuma rebahan, tidur sampai siang. Apa aja yang bisa dikerjain. Ada banyak tempat bagus di luar sana yang bisa saya kunjungi. Ada mall, museum, monumen nasional, tempat makan, tapi jujur saya baru sekali main ke luar di hari libur. Saya selalu bilang, "Minggu depan aja". Minggu depannya saya bilang lagi "Minggu depan aja," dan seterusnya.
Saya selalu berpikir saya harus bekerja keras sekarang, melupakan waktu untuk bersantai, agar kelak gak perlu memikirkan apapun karena sudah punya segalanya. Saya terlalu keras terhadap diri sendiri. Namun, akhirnya, yang ada malah nyesel karena selama ini saya tinggal di tengah-tengah peradaban tapi gak pernah menikmatinya. Kita gak pernah tau apa yang akan terjadi dalam kehidupan. Dan, kabar buruknya, kita cuma hidup sekali. Jadi jangan sia-siakan dan nikmati waktu tersebut untuk melakukan hal yang mau kita lakukan instead of hal yang kita harus kita lakukan.
Maka, di momen ini, nikmati segala sesuatunya, hal kecil yang ada di sekitar. Jangan seperti sebelumnya, we took it for granted and in the end we regret it.
Komentar
Posting Komentar