Bagaimana Orang-orang Pintar Memanipulasi Orang Lain?
sumber: hujansamudera
Di 2018, saya menerima kronologi sejumlah kasus kekerasan yang dialami perempuan timur. Pelaku adalah kakak tingkat di organisasi sosial. Organisasi yang mempelajari dan memperjuangkan hak hidup petani.
Relasi yang ada tentu timpang. Pelaku senior korban junior. Dalam analisis kasus kekerasan seksual, relasi kuasa jadi salah satu point penting yang harus ditelisik lebih cermat. Yang sayangnya suka dianggap tidak begitu penting oleh pihak kepolisian saat mengusut kasus kekerasan seksual.
Kasus itu tidak main-main, karena pelaku telah menyebabkan beberapa perempuan yang baru belajar di organisasi itu jadi korban kekerasan seksual. Ada yang hingga diperkosa.
Modusnya? belajar bersama, berdiskusi bersama, mendedah teori Marx soal kelas, dan berakhir dengan rayuan-rayuan untuk belajar di ruang privat, seperti kamar kos.
Pelaku tahu betul bahwa perempuan-perempuan ini adalah orang-orang yang baru saja belajar isu pertentangan kelas, belajar Marx dan Engels. Sehingga melihat sosok pelaku sebagai orang yang keren, patut diidolakan, terkhusus gerakan pelaku bagi petani-petani miskin di daerah mereka menimbulkan simpati tinggi.
Mungkin kalian bisa relate dengan pengalaman pertama kali masuk kampus dan bertemu dengan kakak tingkat model begini.
Pelaku mendekati semua anak didik ideologinya, mendudukkan para korban dalam kesadaran manipulatif sehingga korban tidak sadar bahwa sedang dimanipulasi.
Setiap korban bertanya mereka dalam hubungan apa, pelaku selalu mungkir dengan alasan tidak ingin terjebak dalam wacana kepemilikan yang dijelaskan Engels dalam buku Asal-Usul Keluarga yang sudah mereka diskusikan bersama. Jadi mereka cuma bisa menjalani saja, dengan janji akan diseriusi, nanti.
Saya sungguh tidak sanggup membaca kronologinya. Tapi pekerjaan saya saat itu mengharuskan saya membaca sampai habis agar saya bisa jadi lebih cermat ketika berhadapan dengan korban kekerasan seksual, dan bisa mencatat lebih detail bagaimana pola kekerasan bisa terjadi.
Pelaku mendapat hukuman dari organisasi dengan dikeluarkan tidak hormat. Saya tidak tahu bagaimana dengan proses hukumnya. Tapi, kita selalu luput melihat korban kekerasan seksual. Bagaimana kabar perempuan-perempuan itu. Siapa yang bertanggung jawab atas rasa malu, terhina, luka, dan ribuan kesakitan yang lain. Tidak ada! Mereka harus bertanggung jawab atas apa yang sudah pelaku lakukan pada tubuh dan jiwa mereka.
Sebenarnya, ada banyak sekali kasus seperti ini di sekitar kita. Bagaimana orang-orang yang merasa pintar, menggunakan kepintarannya sebagai suatu kekuatan untuk menguasai orang lain. Mereka tidak perlu menggunakan kekerasan untuk mempraktikkan kekuasaan yang mereka pelajari. Tapi mereka sadar betul akan kekuatan itu, mereka tentu membaca Foucault.
Orang-orang pintar seperti inilah yang merugikan orang lain berjuta-juta kali dibanding orang bodoh yang melakukan kejahatan. Mengerikan!
Kesadaran akan pengetahuan yang dimiliki, kemampuan untuk membangun komunikasi yang baik, kemampuan untuk membuat orang-orang terpana, dan sejumlah kemampuan lain yang sangat berbahaya.
Lalu apa?
Makanya kita butuh belajar terus, menyadari bahwa kita bisa saja tiap saat dibodohi, menyadari bahwa kita tiap saat diintai, menurut saya sangat baik diaplikasikan, karena dunia ini begitu mengerikan.
Jangan, jangan mudah terbawa suasana, jangan mau dibawa arus, jangan mau diajar-ajari sampai kita tidak punya ruang untuk berpikir dan memutuskan sendiri. Jangan, jangan sesekali mudah terkesima.
Pelajari, miliki, dan kuasai pengetahuan. Jadikan ia pelindung dan alat untuk bertarung ketika kamu dalam posisi sulit. Jangan menguasai orang lain dengan ilmumu, tapi kuasailah dirimu dengan ilmu.
Relasi yang ada tentu timpang. Pelaku senior korban junior. Dalam analisis kasus kekerasan seksual, relasi kuasa jadi salah satu point penting yang harus ditelisik lebih cermat. Yang sayangnya suka dianggap tidak begitu penting oleh pihak kepolisian saat mengusut kasus kekerasan seksual.
Kasus itu tidak main-main, karena pelaku telah menyebabkan beberapa perempuan yang baru belajar di organisasi itu jadi korban kekerasan seksual. Ada yang hingga diperkosa.
Modusnya? belajar bersama, berdiskusi bersama, mendedah teori Marx soal kelas, dan berakhir dengan rayuan-rayuan untuk belajar di ruang privat, seperti kamar kos.
Pelaku tahu betul bahwa perempuan-perempuan ini adalah orang-orang yang baru saja belajar isu pertentangan kelas, belajar Marx dan Engels. Sehingga melihat sosok pelaku sebagai orang yang keren, patut diidolakan, terkhusus gerakan pelaku bagi petani-petani miskin di daerah mereka menimbulkan simpati tinggi.
Mungkin kalian bisa relate dengan pengalaman pertama kali masuk kampus dan bertemu dengan kakak tingkat model begini.
Pelaku mendekati semua anak didik ideologinya, mendudukkan para korban dalam kesadaran manipulatif sehingga korban tidak sadar bahwa sedang dimanipulasi.
Setiap korban bertanya mereka dalam hubungan apa, pelaku selalu mungkir dengan alasan tidak ingin terjebak dalam wacana kepemilikan yang dijelaskan Engels dalam buku Asal-Usul Keluarga yang sudah mereka diskusikan bersama. Jadi mereka cuma bisa menjalani saja, dengan janji akan diseriusi, nanti.
Saya sungguh tidak sanggup membaca kronologinya. Tapi pekerjaan saya saat itu mengharuskan saya membaca sampai habis agar saya bisa jadi lebih cermat ketika berhadapan dengan korban kekerasan seksual, dan bisa mencatat lebih detail bagaimana pola kekerasan bisa terjadi.
Pelaku mendapat hukuman dari organisasi dengan dikeluarkan tidak hormat. Saya tidak tahu bagaimana dengan proses hukumnya. Tapi, kita selalu luput melihat korban kekerasan seksual. Bagaimana kabar perempuan-perempuan itu. Siapa yang bertanggung jawab atas rasa malu, terhina, luka, dan ribuan kesakitan yang lain. Tidak ada! Mereka harus bertanggung jawab atas apa yang sudah pelaku lakukan pada tubuh dan jiwa mereka.
Sebenarnya, ada banyak sekali kasus seperti ini di sekitar kita. Bagaimana orang-orang yang merasa pintar, menggunakan kepintarannya sebagai suatu kekuatan untuk menguasai orang lain. Mereka tidak perlu menggunakan kekerasan untuk mempraktikkan kekuasaan yang mereka pelajari. Tapi mereka sadar betul akan kekuatan itu, mereka tentu membaca Foucault.
Orang-orang pintar seperti inilah yang merugikan orang lain berjuta-juta kali dibanding orang bodoh yang melakukan kejahatan. Mengerikan!
Kesadaran akan pengetahuan yang dimiliki, kemampuan untuk membangun komunikasi yang baik, kemampuan untuk membuat orang-orang terpana, dan sejumlah kemampuan lain yang sangat berbahaya.
Lalu apa?
Makanya kita butuh belajar terus, menyadari bahwa kita bisa saja tiap saat dibodohi, menyadari bahwa kita tiap saat diintai, menurut saya sangat baik diaplikasikan, karena dunia ini begitu mengerikan.
Jangan, jangan mudah terbawa suasana, jangan mau dibawa arus, jangan mau diajar-ajari sampai kita tidak punya ruang untuk berpikir dan memutuskan sendiri. Jangan, jangan sesekali mudah terkesima.
Pelajari, miliki, dan kuasai pengetahuan. Jadikan ia pelindung dan alat untuk bertarung ketika kamu dalam posisi sulit. Jangan menguasai orang lain dengan ilmumu, tapi kuasailah dirimu dengan ilmu.
********
Kenapa saya menulis ini?
Malam tadi saya dapat kabar bahwa laki-laki yang membuat saya senang dalam beberapa hari lalu adalah seorang bajingan. Pola yang digunakan sama seperti kasus di atas.
Dia tidak melakukan kekerasan seksual, tapi dia melukai hati teman-teman perempuan lain.
Saya belajar banyak, belajar terus. Betapa semesta menunjukkan sebelum saya lebih jauh berelasi.
Salam hangat 🌻
Malam tadi saya dapat kabar bahwa laki-laki yang membuat saya senang dalam beberapa hari lalu adalah seorang bajingan. Pola yang digunakan sama seperti kasus di atas.
Dia tidak melakukan kekerasan seksual, tapi dia melukai hati teman-teman perempuan lain.
Saya belajar banyak, belajar terus. Betapa semesta menunjukkan sebelum saya lebih jauh berelasi.
Salam hangat 🌻
Komentar
Posting Komentar