Belajar Menyendiri

semenjak melaksanakan praktik kerja lapangan, atau dengan kata lain disebut magang, saya lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. karena memang tidak ada teman perempuan yang bisa dijadikan teman sekamar. hingga akhirnya saya memutuskan untuk bekerja, kembali pergi dari rumah, tidak ada teman yang bisa saya jadikan teman sekamar. pada dasarnya saya lebih menyukai suasana sepi dan sendirian, dimana saya bisa mengembangkan karakter saya sendiri tanpa adanya seseorang yang sudah mengenal saya sebelumnya. memulai segalanya dari nol.


terlalu menikmati aktivitas monoton akhir-akhir ini, hingga suatu hari seorang teman, lalu banyak teman, bertanya, "kok kamu bisa serba sendiri?" "kamu gak pengen pulang gitu? gak kangen keluarga di rumah?" "kok kamu kuat sih jarang pulang? minta tipsnya dong" "gila ya kamu bisa tidur sendiri gaada tv, kalo aku sih pasti gabakal tidur tiap malem." saya pun tersadar. terkadang kita harus melihat kembali ke belakang, dan berterimakasih kepada diri sendiri. memeluk diri sendiri. kembali meyakinkan diri sendiri.

Perjalanan dimulai ketika tiga hari pertama tinggal di satu petak kamar kost, saya tidak bisa mandi di kamar mandi saya sendiri (kebetulan kamar kost saya memiliki kamar mandi di dalam). alasannya? kecoak. saya phobia dengan kecoak dan, oh ya, ada kecoak banyak sekali di kamar mandi saya pada waktu itu (ada enam ekor dengan ukuran yang bervariasi) karena kamar kost tersebut sudah lama kosong sebelumnya. jadi saya selalu menumpang pipis di musholla terdekat dan numpang mandi di kantor hahahaha.
dari pengalaman tersebut, ketakutan yang saya alami, saya dipaksa oleh kenyataan untuk menghadapi setengah lusin kecoak tersebut karena, kita tidak bisa selamanya menghindar dari ketakutan, bukan? kita setengah mati menjauh dari hal-hal buruk seumur hidup kita, namun pada akhirnya kita kembali dihadapkan.
bukan untuk membuat kita hancur, namun untuk membuat kita menjadi lebih kuat.

sama halnya dengan hidup. kita terlahir di dunia sendirian, kita menangis, lalu orangtua kita datang mendekap hingga tangisan kita mereda. kita dikelilingi orang yang menyayangi kita. namun seiring berjalannya waktu satu persatu mereka pergi meninggalkan kita. atau kitalah yang pergi meninggalkan mereka. lalu kembali sendirian. dan semua itu membuat kita menjadi manusia yang lebih kuat.

ternyata dari hal kecil, banyak yang bisa dijadikan pelajaran. tinggal kita manusia yang memilih akan belajar dari dunia atau tidak.[]

Komentar